<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title><![CDATA[Yusuf AA]]></title><description><![CDATA[Catatan personal dari Yusuf Abdhul Azis! Berisi apa saja yang sedang disukai dan sedang dipelajari.]]></description><link>https://yusufaa.web.id</link><generator>RSS for Node</generator><lastBuildDate>Mon, 01 Jun 2026 07:55:40 GMT</lastBuildDate><atom:link href="https://yusufaa.web.id/rss.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><language><![CDATA[en]]></language><ttl>60</ttl><item><title><![CDATA[Solusi Error FIGMA Desktop Blank Hitam dan Tidak Load File]]></title><description><![CDATA[Cara Cepat Memperbaiki Figma Layar Hitam Kalian mengalami masalah di mana aplikasi desktop Figma hanya menampilkan layar hitam. Masalah ini sering disebabkan oleh kerusakan pada berkas konfigurasi internal. Berikut adalah cara untuk memperbaikinya de...]]></description><link>https://yusufaa.web.id/solusi-error-figma-desktop-blank-hitam-dan-tidak-load-file</link><guid isPermaLink="true">https://yusufaa.web.id/solusi-error-figma-desktop-blank-hitam-dan-tidak-load-file</guid><category><![CDATA[figma]]></category><dc:creator><![CDATA[Azis's Journal]]></dc:creator><pubDate>Mon, 01 Dec 2025 16:13:52 GMT</pubDate><enclosure url="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1764605227973/ed9b8a38-3e94-4e0f-93e7-d461add270a9.webp" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Cara Cepat Memperbaiki Figma Layar Hitam Kalian mengalami masalah di mana aplikasi desktop Figma hanya menampilkan layar hitam. Masalah ini sering disebabkan oleh kerusakan pada berkas konfigurasi internal. Berikut adalah cara untuk memperbaikinya dengan mengganti berkas tersebut.</p>
<blockquote>
<p><strong><em>Hal Penting:</em></strong> <em>Pastikan kalian telah mengunduh berkas settings.json yang telah disiapkan sebelum memulai proses ini.</em></p>
</blockquote>
<p>Pertama-tama, kita perlu memastikan aplikasi Figma benar-benar tidak berjalan. Jangan hanya menutup jendelanya, pastikan kalian telah keluar (quit) sepenuhnya dari aplikasi.</p>
<p>Setelah itu, mari kita buka lokasi penyimpanan data Figma:</p>
<ol>
<li><p>A<strong>kses menu Start Windows</strong> dan ketik perintah ini:</p>
<pre><code class="lang-plaintext"> %APPDATA%\Figma.
</code></pre>
</li>
<li><p>Tekan Enter. Perintah ini akan membawa kalian langsung ke folder tempat Figma menyimpan pengaturan internalnya di dalam File Explorer.</p>
</li>
</ol>
<p>Sekarang, yang perlu kita lakukan adalah menimpa berkas lama yang rusak:</p>
<ol start="3">
<li><p>Seret berkas <strong>settings.json</strong> yang sudah kalian unduh tadi ke dalam jendela File Explorer yang baru saja terbuka. (Silakan downloa <a target="_blank" href="https://drive.google.com/file/d/15b-_2SVV5UEDTeduwbYqragwz1kn2SAj/view"><strong>di sini</strong></a>)</p>
</li>
<li><p>Kalian akan melihat pop-up yang menanyakan tindakan kalian. Cukup pilih opsi untuk "Ganti file di tujuan" (Replace the file in the destination).</p>
</li>
</ol>
<p>Selesai. Berkas konfigurasi yang baru dan sehat sudah terpasang. Langkah terakhir, jalankan kembali aplikasi Figma. Layar hitam seharusnya tidak muncul lagi, dan kalian dapat mulai mendesain.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Manfaatkan Adanya AI untuk Teman yang Baik (Grok X)]]></title><description><![CDATA[Akhir-akhir ini apabila kita melihat di semua media baik media sosial maupun di berita nasional, semuanya tidak lepas dari bahasan yang namanya AI. AI hadir secara cepat memengaruhi gaya hidup seseorang bahkan bisa juga mengubah gaya hidup seseorang ...]]></description><link>https://yusufaa.web.id/manfaatkan-ai-untuk-teman-baik</link><guid isPermaLink="true">https://yusufaa.web.id/manfaatkan-ai-untuk-teman-baik</guid><dc:creator><![CDATA[Azis's Journal]]></dc:creator><pubDate>Sun, 23 Feb 2025 12:11:55 GMT</pubDate><enclosure url="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1740322648678/5b308005-570d-42f8-a539-7f6a402e2e22.webp" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini apabila kita melihat di semua media baik media sosial maupun di berita nasional, semuanya tidak lepas dari bahasan yang namanya AI. AI hadir secara cepat memengaruhi gaya hidup seseorang bahkan bisa juga mengubah gaya hidup seseorang juga.</p>
<p>Dalam tulisan Saya ini, tidak membahas sampai sedetail itu. Hanya saja, nanti Saya akan bahas bagaimana sebuah AI yang melekat dengan diri kita (baik di kehidupan sehari-hari) bisa dijadikan temna yang baik dan dimanfaatkan layaknya “tools” bukan layaknya “tuhan” yang bisa memberikan petunjuk yang ‘pasti benar’.</p>
<h2 id="heading-ai-sebagai-tools">AI Sebagai Tools</h2>
<p>Namanya tools, secara definisi saja diartikan sebagai alat, perkakas, atau perangkat yang digunakan untuk memudahkan pekerjaan manusia. Jadi, poin utamanya di sini adalah sebagai alat bantu yang mempermudah pekerjaan manusia.</p>
<p>Namanya alat bantu, ya digunakan untuk membantu bukan untuk mengerjakan pekerjaan yang utama dong. Nah, dengan adanya alat-alat seperti ini diharapkan manusia seperti kita ini bisa memaksimalkan potensi yang sebelumnya dihabiskan untuk pekerjaan yang monoton diubah menjadi menyediakan waktu untuk eksplor hal-hal baru yang belum kepikiran sebelumnya.</p>
<ul>
<li><p>Makin malas? Pasti!</p>
</li>
<li><p>Makin produktif? Bisa jadi!</p>
</li>
<li><p>Apakah kita makin pinter? Ya belum tentu juga.</p>
</li>
</ul>
<p>Makanya, sebagai manusia yang “berakal” sebaiknya kita menggunakan AI ini dengan baik. Hidup adalah ibadah dan ibadah itu wajib bagi yang berakal. Kalau misalkan kita menjalani hidup tanpa akal, berarti secara tidak langsung kita tidak menjalakan ibadah itu sendiri.</p>
<h2 id="heading-ai-sebagai-teman-baik">AI Sebagai Teman Baik</h2>
<p>Sebagai temen, kalau kita tidak tau ya lebih baik nanya ke temen yang lebih tau (benar atau salah itu soal perspektif saja). Fokusnya adalah temen kita itu kita anggap lebih tau, untuk kebenaran hanya pribadi kita masing-masing yang bisa menentukan.</p>
<p><strong>Bagaimana cara manfaatin AI ini sebagai temen baik?</strong></p>
<p>Biasanya Saya menggunakan ini untuk riset-riset terkait kebutuhan, keingan dan trend yang ada di pasar. Mulai dari kejadian apa yang lagi ramai, apa saja yang dibicarakan, apakah brand kita banyak dibicarakan orang dan bahkan sampai bisa diminta untuk memberikan data sentimen secara dasar.</p>
<p>Ini contohnya yang tidak terkait pekerjaan saja ya (namanya juga contoh). Seperti biasanya karena kesibukan bekerja, untuk mengikuti berita terbaru kadang juga agak sedikit terlambat. Makanya, walaupun buka X/Twitter, paling yang muncul ya cuma masalah-masalah negara, keresahan, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, biar tetep bisa up to date dan tanpa harus mengorbakan mood karena kebanyakan nonton hal negatif, bisa kita manfaatin yang namanya AI-nya X, yaitu GROX.</p>
<p>Contohnya Saya sedang kepo tentang tagar #KaburAjaDulu secara mendalam dan ringkas di X. Cocok banget ini karena Grok juga ambil datanya dari X (satu platform). Kemudian, Saya tanyakan ke grok seperti ini.</p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1740311974216/cbd66f6c-b8fb-45ca-9f0e-1c86d923f56c.png" alt class="image--center mx-auto" /></p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1740311990878/df371d09-626c-4f64-9d4d-8782ded35b03.png" alt class="image--center mx-auto" /></p>
<p>Dari situ kita tau bahwa info-info yang keluar itu banyak yang mungkin sentimennya negatif. Apalagi Saya sudah terpapar dengan postingan-postingan sebelumnya juga di X. Secara naluriah, hal-hal negatif pasti sudah ada di otak terlebih dahulu.</p>
<p>Langkah selanjutnya, Saya coba tanyakan saja masalah sentimen positif mengenai tagar ini dan hasilnya cukup lumayan bagus.</p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1740312126291/5f35ccd9-cd4b-49e1-b9b7-0489956dc7a3.png" alt class="image--center mx-auto" /></p>
<p>Dari sini, kita dapat hal-hal yang mungkin tidak kita sadari dan temen kita yang baik (si AI) memberikan informasi yang cukup lengkap. Mana keputusan yang mau kita ambil? Ya sesuai masing-masing pribadi.</p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1740312270368/b97c836b-2f2a-4c2d-9a86-8270070fc1e7.png" alt class="image--center mx-auto" /></p>
<p>Dahulu, mungkin untuk bisa ke luar negeri itu seperti hal yang sangat berat dan gak punya jalannya. Namun, dengan adanya orang baik yang bercerita yang meramaikan tagar #KaburAjaDulu malah menemukan ternyata banyak hal yang sebaiknya bisa kita eksplor dan naik level lagi.</p>
<p>Kerja ke luar negeri tidak harus juga datang dan menetap di luar negeri, bahkan bisa kerja remote ke luar negeri. Atau bahkan kalau diskusi jauh sama si AI, banyak juga yang merekomendasikan membuka bisnis dengan target pasar luar negeri. Lumayan banget kan AI ini.</p>
<p>Ini baru masalah sampai detail di sentimennya. Belum lagi jika kita bisa mendapatkan hidden gem selama diskusi siapa tau menemukan hal-hal yang pas dengan pekerjaan kita.</p>
<p>Kira-kira begitulah tentang AI menjadi temen. Ajaklah untuk memudahkan kita menemukan sesuai sehingga untuk memvalidasi juga tidak perlu menghabiskan banyak waktu. Mungkin untuk AI lain seperti chatGPT, Gemini, Claude atau bahkan yang baru banget itu deepsheek dan qwenlm, bisa diperdayakan untuk hal-hal kayak gini.</p>
<ul>
<li><p>Bisa tau hal baru</p>
</li>
<li><p>Bisa lebih cepet belajar hal bar</p>
</li>
<li><p>Dan bisa apapun itu yang menunjang pekerjaan kita lebih efisien.</p>
</li>
</ul>
<p>Bikin malas? Kayaknya tidak kalau untuk masalah pekerjaan. Malah lebih efisien dan lebih produktif. Namun, untuk di ranah pendidikan mungkin masih banyak hal yang malah memotivasi peserta didik untuk malas berpikir, mencari dan memvalidasi.</p>
<p>Sekian.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mindset Penting dalam Belajar Sesuatu]]></title><description><![CDATA[Belajar hal baru memang menantang, terutama jika kita terjebak dalam mindset yang kurang mendukung. Misalnya, merasa bahwa kemampuan kita sudah tetap dan tidak bisa ditingkatkan, atau takut mencoba karena khawatir gagal.
Padahal, dengan mengadopsi mi...]]></description><link>https://yusufaa.web.id/mindset-penting-dalam-belajar-sesuatu</link><guid isPermaLink="true">https://yusufaa.web.id/mindset-penting-dalam-belajar-sesuatu</guid><dc:creator><![CDATA[Azis's Journal]]></dc:creator><pubDate>Fri, 31 Jan 2025 07:47:58 GMT</pubDate><enclosure url="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1738309547740/c98b5e36-7efa-4d44-88fc-d7a63d3c7541.webp" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Belajar hal baru memang menantang, terutama jika kita terjebak dalam mindset yang kurang mendukung. Misalnya, merasa bahwa kemampuan kita sudah tetap dan tidak bisa ditingkatkan, atau takut mencoba karena khawatir gagal.</p>
<p>Padahal, dengan mengadopsi mindset yang tepat, proses belajar bisa menjadi lebih efektif dan menyenangkan.</p>
<p><em>Nah, berikut beberapa mindset penting yang perlu kita miliki saat belajar yang mungkin saja bisa jadi catatan untukku sendiri atau buat kalian yang membaca artikel singkat dan super singkat ini ya.</em></p>
<ol>
<li><h2 id="heading-metacognition">Metacognition</h2>
</li>
</ol>
<p>Metacognition adalah kesadaran tentang bagaimana kita belajar dan memahami informasi. Dengan kata lain, ini adalah kemampuan untuk <strong>"berpikir tentang berpikir".</strong></p>
<p><strong><em>Mengapa ini penting?</em></strong></p>
<p>Karena dengan memahami cara kita memproses informasi, kita bisa menyesuaikan strategi belajar yang paling efektif untuk diri kita sendiri.</p>
<p>Bayangkan kita sedang mencoba mempelajari software manajemen proyek baru. Dengan metakognisi, kita menyadari bahwa kita lebih mudah memahami melalui tutorial video daripada membaca manual.</p>
<p>Maka, kita mencari video tutorial yang sesuai, sehingga proses belajar menjadi lebih efisien dan kita dapat segera menerapkan pengetahuan tersebut dalam pekerjaan.</p>
<blockquote>
<p>Jadi, langkah awal yang untuk belajar dengan urut dari memikirkan sesuatu. Contoh di atas hanya singkatnya saja. Kalo misalkan sudah di level atas, pasti tidak cukup hanya dengan video dan menonton pendapat orang terus menerus.</p>
</blockquote>
<ol start="2">
<li><h2 id="heading-berani-gagal">Berani Gagal</h2>
</li>
</ol>
<p>Takut gagal seringkali menjadi penghambat utama dalam belajar. Padahal, kegagalan adalah bagian alami dari proses belajar. Dengan berani menghadapi kegagalan, kita membuka peluang untuk memahami kesalahan dan belajar darinya.</p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1738309645030/46fa8dd6-d4df-45db-94f2-f6e22ba6680a.jpeg" alt class="image--center mx-auto" /></p>
<p>Misalnya, kita ingin meningkatkan keterampilan presentasi. Pada percobaan pertama, presentasi kita mungkin tidak berjalan lancar. Namun, dengan menerima kegagalan tersebut, kita bisa mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki, seperti cara penyampaian atau desain slide, sehingga presentasi berikutnya menjadi lebih baik.</p>
<blockquote>
<p>Namanya juga perjalanan, pasti ada gagal dan ada berhasil. Jangan sampai tidak pernah gagal, karena itulah yang membimbing kita secara mandiri untuk bisa selalu berhati-hati.</p>
</blockquote>
<ol start="3">
<li><h2 id="heading-deliberate-practice">Deliberate Practice</h2>
</li>
</ol>
<p>Latihan terarah adalah pendekatan latihan yang fokus pada peningkatan aspek tertentu dengan tujuan yang jelas dan umpan balik yang kontinu. Ini berbeda dengan latihan biasa yang cenderung repetitif tanpa tujuan spesifik.</p>
<p>Contohnya, seperti kita ingin meningkatkan kecepatan mengetik. Alih-alih hanya mengetik secara rutin, kita menggunakan aplikasi khusus yang mengidentifikasi kelemahan kita, seperti kesalahan pada huruf tertentu, dan memberikan latihan khusus untuk mengatasinya.</p>
<p><em>Dengan demikian, kecepatan dan akurasi mengetik kita meningkat secara signifikan.</em></p>
<p>Atau misalnya kita ingin bisa menjadi seorang penulis yang kaya akan koleksi kata-kata. Maka, hal yang harus sering kita latih adalah mengenai “membaca buku” dan “ngobrol dengan orang baru”. Sebab, tanpa cara itu, kita susah untuk memperkaya kosa kata.</p>
<ol start="4">
<li><h2 id="heading-terakhir-growth-mindset">Terakhir, Growth Mindset</h2>
</li>
</ol>
<p>Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan melalui usaha dan pembelajaran. Dengan mindset ini, kita lebih terbuka terhadap tantangan dan melihatnya sebagai peluang untuk berkembang.</p>
<p><strong>Contohnya seperti halnya kita ditugaskan memimpin proyek dengan teknologi yang belum kita kuasai.</strong></p>
<p>Dengan growth mindset, kita melihat ini sebagai kesempatan untuk belajar, mencari pelatihan, dan berkonsultasi dengan ahli, sehingga tidak hanya proyek berjalan sukses, tetapi kita juga menambah keterampilan baru.</p>
<p>Dengan mengadopsi mindset-mindset di atas, proses belajar tidak hanya menjadi lebih efektif, tetapi juga lebih menyenangkan. Ingat, setiap langkah kecil yang kita ambil dalam belajar membawa kita lebih dekat ke tujuan yang diinginkan.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kenapa Kita Susah Belajar?]]></title><description><![CDATA[Pernah nggak sih, kamu merasa stuck di tempat yang sama? Mau belajar skill baru , tapi rasanya kayak ada tembok besar yang menghalangi. Entah itu karena sibuk, malas, atau sekadar takut gagal. Pasti pernah banget kalee.
Kayaknya semua orang ngalamin ...]]></description><link>https://yusufaa.web.id/kenapa-kita-susah-belajar</link><guid isPermaLink="true">https://yusufaa.web.id/kenapa-kita-susah-belajar</guid><dc:creator><![CDATA[Azis's Journal]]></dc:creator><pubDate>Thu, 30 Jan 2025 12:00:15 GMT</pubDate><enclosure url="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1738238468072/1fa04dea-d885-44cc-89fa-3c7a738eee95.webp" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Pernah nggak sih, kamu merasa stuck di tempat yang sama? Mau belajar skill baru , tapi rasanya kayak ada tembok besar yang menghalangi. Entah itu karena sibuk, malas, atau sekadar takut gagal. Pasti pernah banget kalee.</p>
<p><strong><em>Kayaknya semua orang ngalamin ini deh, wkwk</em></strong></p>
<p>Pada akhirnya, kamu memilih untuk tetap di zona nyaman, nunggu waktu yang "tepat" untuk mulai belajar. Tapi, sadar nggak? Waktu yang "tepat" itu nggak pernah datang kalau kamu nggak mulai sekarang.</p>
<h2 id="heading-coba-mikir-lagi-lebih-dalam">Coba Mikir Lagi Lebih Dalam</h2>
<p>Belajar itu memang sulit. Butuh energi, waktu, dan mental yang kuat. Tapi, coba deh ingat-ingat lagi.</p>
<ul>
<li><p><em>Apa yang terjadi kalau kamu memilih untuk tidak belajar?</em></p>
</li>
<li><p><em>Apakah aku bakalan gini-gini terus sampai nanti?</em></p>
</li>
<li><p><em>Apakah kalo sudah nyaman gini, ada yang menggusurku suatu saat nanti?</em></p>
</li>
<li><p><em>Aman ga yak kalo gak belajar?</em></p>
</li>
</ul>
<p>Dan coba munculin banyak lagi tentang alasan kenapa kamu harus belajar. Ini juga aku lakuin kayak belajar dan explore tentang AI gitu. Soalnya, kalo denial tentang kedatangan AI malah aku merasa ketinggalan sangat jauh dengan yang lain.</p>
<p>Oke, lanjutin ke yang lebih praktikal lagi. (Ini hanya berdasarkan pengalamanku aja sih ya. Namanya juga blog pribadi wkwk).</p>
<h2 id="heading-breakdown-dulu-penyebab-kita-susah-belajar">Breakdown Dulu Penyebab Kita Susah Belajar</h2>
<p>"Belajar sulit, tapi gak belajar gak berkembang." Ini bukan sekadar kalimat motivasi, ini fakta. Solusinya adalah ya “BELAJAR”, dengan mengelola penyebab yang kita alami.</p>
<h3 id="heading-pertama-beban-pikiran-yang-menumpuk-kita">Pertama, Beban Pikiran yang Menumpuk Kita</h3>
<p>Kita ini masuk di dunia yang aku namain “dunia serba sibuk”. Bahkan, sampai gak ada waktunya buat istirahat kadang harus bilang, “aku sibuk tidur”. Wkwk.</p>
<p>Pekerjaan, urusan rumah, tagihan, bahkan FOMO (fear of missing out) dari media sosial bikin kepala kita penuh. Saat mau belajar, otak sudah kehabisan energi. Mau fokus baca tentang suatu materi yang kita rencanakan? Eh, malah kepikiran deadline besok atau chat grup yang belum dibalas.</p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1738237678270/dd9c5e7f-8855-4f2c-967f-9989bcb67e50.webp" alt class="image--center mx-auto" /></p>
<blockquote>
<p><em>Kalau kamu nunggu pikiran tenang baru mulai belajar, kapan mulainya? Jangan sampai kesibukan jadi alasan untuk nggak berkembang. Ambil napas, prioritaskan, dan sisihkan waktu 30 menit sehari. Ingat, skill baru nggak akan datang sendiri, kamu yang harus menjemputnya!"</em></p>
</blockquote>
<p>Misalnya nih, aku biasanya suka mengulik tentang masalah SEO dari pendekatan produk. So, yang aku explore lebih jauh itu malah di bagian produk dan marketnya. Mungkin kalo SEO itu aku udah punya bekal, tapi untuk memahami produk dan behaviour market, kayaknya aku harus belajar lebih jauh lagi.</p>
<blockquote>
<p>Eng ing eng, masalahnya ya tadi. Sok sibuk banget.</p>
</blockquote>
<p><strong>Solusinya: Alokasikan waktu 30 menit sebelum tidur buat baca-baca. Ini works di aku, tapi gak tau kalo di kalian.</strong></p>
<h3 id="heading-kedua-ekspektasi-instan-dikira-bisa-langsung-mahir">Kedua, Ekspektasi Instan (Dikira Bisa Langsung Mahir)</h3>
<p><em>Mau Cepat Bisa, Cepat Jago Kita hidup di dunia serba instan.</em></p>
<ul>
<li><p>Mau makan? Pesan online.</p>
</li>
<li><p>Mau cari info? Google dalam 3 detik.</p>
</li>
</ul>
<p>Tapi, belajar skill baru seperti SEO, digital marketing, memahami ilmu marketingnya Pak Philip Kotler itu menurutku nggak bisa instan.</p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1738237958000/36d7f41a-f160-4931-a122-88e26b783d2a.jpeg" alt class="image--center mx-auto" /></p>
<p>Kamu nggak bisa baca satu artikel trus langsung jago bikin strategi konten viral. SEO aja butuh waktu berbulan-bulan buat naik ranking, masa belajar dari 1 artikel udah langsung ahli. Apalagi kalo belajar marketing dari buku, behhh harus baca beneran sih ini.</p>
<blockquote>
<p>Nyicil adalah solusi bagiku.</p>
</blockquote>
<p>Jadi inget, kalo kita mau jadi ahli dalam semalam, Stop! itu hanya mimpi!</p>
<p>Hasil instan itu mitos. Yang ada, proses belajar itu seperti menanam pohon, butuh waktu, kesabaran, dan konsistensi. Hasil itu bisa kadang buruk dan kadang baik. Minimal dengan tau yang buruk, bisa dicegah di kemudian hari.</p>
<h3 id="heading-ketiga-takut-keluar-dari-zona-nyaman">Ketiga, Takut Keluar dari Zona Nyaman</h3>
<p>Zona nyaman itu enak, ya. Nggak perlu mikir keras, nggak perlu takut gagal. Tapi, kalau kita mau jago dalam menjalani hidup, ya kita harus berani keluar dari zona nyaman.</p>
<p><img src="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1738238203351/584d8ee3-e164-4c06-b233-bc1d1788c760.jpeg" alt class="image--center mx-auto" /></p>
<p>Misalnya, buat jadi SEO Specialist, gak cukup cuma belajar masalah bikin artikel. Itu mah bisa didelegasikan ke orang lain. Namun, coba belajar lebih luas bahkan dari sisi bisnis. Biar apa? Biar mandiri ketika nanti gak di situ lagi.</p>
<p>Belajar hal baru itu nggak nyaman (itu udah pasti, bahkan akupun juga). Apalagi kalau harus ngulik tools analitik atau ngerti algoritma Google yang ribet. Tapi, mau gimana lagi? Masa gitu-gitu terus? Nanti bisa ditendang sama anak baru.</p>
<blockquote>
<p>Kalau kita nggak berani keluar dari zona nyaman, ya selamat tinggal level up! Ingat, semua orang sukses di bidang digital marketing juga pernah merasa nggak nyaman di awal. Mereka berani mencoba, gagal, dan belajar lagi. Kamu juga bisa, asal nggak takut mencoba!</p>
</blockquote>
<h3 id="heading-terakhir-distraksi-modern-musuh-utama-belajar">Terakhir, <strong>Distraksi Modern: Musuh Utama Belajar</strong></h3>
<p>Notifikasi WhatsApp, TikTok, Netflix, atau bahkan chat grup kerja, dan semuanya siap mengalihkan perhatian kamu. Kalo kamu ga punya batas untuk mengelola itu semua, kayaknya gak bakal ada waktu untuk belajar.</p>
<p>Cara mengatasi distraksi versiku.</p>
<ul>
<li><p>WA bikin 2, satu untuk kantor dan satu untuk pribadi</p>
</li>
<li><p>Nonton media sosial batasi sehari berapa jam</p>
</li>
<li><p>Perbanyak ibadah bisa mengurangi ketergantungan akan media sosial</p>
</li>
<li><p>Wajib belajar 30 menit (entah bentuknya video, teks, atau bahkan mungkin diskusi dg AI kayak deepseek atau chatGPT).</p>
</li>
</ul>
<p>Semoga tulisan ringkas ini bisa jadi catatan untukku di kemudian hari kalo misalkan aku malas belajar lagi.</p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kuasai Skill Self Learning Agar Tidak Mudah Terjebak]]></title><description><![CDATA[Kalian pasti sering nemu model program kelas, ebook atau apapun itu yang intinya orang nawarin, "Ikut ini, dijamin bisa sampe pecah telor!"
Tapi, coba deh pikirin lagi!
Terlalu bergantung sama orang lain buat ngejar mimpi itu justru bikin kalian mala...]]></description><link>https://yusufaa.web.id/kuasai-skill-self-learning</link><guid isPermaLink="true">https://yusufaa.web.id/kuasai-skill-self-learning</guid><dc:creator><![CDATA[Azis's Journal]]></dc:creator><pubDate>Wed, 29 Jan 2025 05:04:13 GMT</pubDate><enclosure url="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1738126980430/1d6ddcf0-5647-4f57-9d9e-eb231a6a3037.webp" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Kalian pasti sering nemu model program kelas, ebook atau apapun itu yang intinya orang nawarin, <strong>"Ikut ini, dijamin bisa sampe pecah telor!"</strong></p>
<p>Tapi, coba deh pikirin lagi!</p>
<p>Terlalu bergantung sama orang lain buat ngejar mimpi itu justru bikin kalian malah gak berkembang. Kenapa? Karena goals dan mimpimu itu tanggung jawabmu sendiri, bukan orang lain. Kalo kalian ngikutin apa yang dikatakan orang lain terus, bisa jadi mimpimu bisa bias dan malah ga bisa mewujudkan mimpi yang sesuai dengan bayanganmu.</p>
<h2 id="heading-nah-solusinya-belajar-mandiri">Nah, solusinya? Belajar mandiri.</h2>
<p>Mulai sekarang, kalian harus mau nyobain hal-hal kayak gini.</p>
<p><strong>📊 Belajar sendiri.</strong></p>
<p>Cari tau apa yang perlu kalian kuasai, eksplor, dan riset. Dengan mencari tau sendiri, kalian akan lebih bisa mem-breakdown kebutuhan dengan lebih mendalam. Bahkan juga, dari proses pencarian ini, kalian bisa menemukan hal-hal baru yang tidak ada dalam kelas-kelas yang menjual harapan secepat kilat.</p>
<p><strong>👌Eksperimen sendiri</strong></p>
<p>Praktikkan langsung apa yang udah kalian pelajari. Gagal? Itu wajar! Dengan gagal, itu bisa jadi cerita untuk kedepannya. Kalo gak pernah gagal? Proses untuk mematangkan mental pasti akan lebih lama. Orang sukses pasti banyak gagalnya, tetapi dengan kegagalan ini mental dan strategi preventifnya akan muncul di kemudian hari.</p>
<p><strong>😓 Gagal sendiri</strong></p>
<p>Dari sini justru kalian bakal belajar banyak. Gagal itu guru terbaik, kok.</p>
<p><strong>✨ Cari bantuan kalau beneran mentok</strong></p>
<p>Tapi setelah dapet solusi, lanjut lagi belajar sendiri. Kalo memang sudah mentok banget, bisa join komunitas untuk nanya-nanya solusi dari masalah yang sedang kalian hadapi. Bisa juga membayar konsultan pribadi biar lebih objektif.</p>
<p>Dengan proses kayak gini, kalian bakal lebih banyak belajar dari kesalahan, momen stuck, atau proyek yang gagal, daripada cuma ikut program yang janjiin "jaminan sukses".</p>
<p><em>Trust me, hasilnya bakal lebih worth it.</em></p>
<h2 id="heading-kesimpulan">Kesimpulan</h2>
<p>Jadi, inti dari yang saya tuliskan ini adalah….</p>
<p>Jangan terlalu nyandelin orang lain buat ngejar mimpimu. Proses belajar mandiri emang lebih berat, tapi hasilnya bikin kalian lebih tangguh dan siap hadapin apa aja.</p>
<p><em>Dah gitu aja sih.</em></p>
]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Blog ini untuk apa?]]></title><description><![CDATA[Sebuah pertanyaan kecil yang terbesit dari kepala saya ketika membeli domain web.id ini. Awalnya beli domain ini karena ada promo aja. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, kenapa gak dimanfaatin aja untuk sekadar mencatat hal yang sedang menarik.
Ya, i...]]></description><link>https://yusufaa.web.id/rilis-blog</link><guid isPermaLink="true">https://yusufaa.web.id/rilis-blog</guid><dc:creator><![CDATA[Azis's Journal]]></dc:creator><pubDate>Sun, 26 Jan 2025 17:29:14 GMT</pubDate><enclosure url="https://cdn.hashnode.com/res/hashnode/image/upload/v1737912385650/08aeabfb-6c9d-4b62-960f-087467aa4a4a.webp" length="0" type="image/jpeg"/><content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah pertanyaan kecil yang terbesit dari kepala saya ketika membeli domain web.id ini. Awalnya beli domain ini karena ada promo aja. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, kenapa gak dimanfaatin aja untuk sekadar mencatat hal yang sedang menarik.</p>
<p>Ya, intinya itu.</p>
<p>Mungkin kedepan blog ini akan dijadikan tempat untuk menulis apapun yang aku ingin tulis. Paling-paling ya tentang bagaimana marketing, khususnya digital marketing di SEO dan media sosial. Atau mungkin ngomongin tentang produktivitas (mungkin semu itu wkwk).</p>
<p>Ya sekali lagi, blog ini hanya buat catatan ringkas aja.</p>
<p>ttd.</p>
<p>Yusuf AA</p>
]]></content:encoded></item></channel></rss>