Skip to main content

Command Palette

Search for a command to run...

Kenapa Kita Susah Belajar?

Updated
4 min read
Kenapa Kita Susah Belajar?

Pernah nggak sih, kamu merasa stuck di tempat yang sama? Mau belajar skill baru , tapi rasanya kayak ada tembok besar yang menghalangi. Entah itu karena sibuk, malas, atau sekadar takut gagal. Pasti pernah banget kalee.

Kayaknya semua orang ngalamin ini deh, wkwk

Pada akhirnya, kamu memilih untuk tetap di zona nyaman, nunggu waktu yang "tepat" untuk mulai belajar. Tapi, sadar nggak? Waktu yang "tepat" itu nggak pernah datang kalau kamu nggak mulai sekarang.

Coba Mikir Lagi Lebih Dalam

Belajar itu memang sulit. Butuh energi, waktu, dan mental yang kuat. Tapi, coba deh ingat-ingat lagi.

  • Apa yang terjadi kalau kamu memilih untuk tidak belajar?

  • Apakah aku bakalan gini-gini terus sampai nanti?

  • Apakah kalo sudah nyaman gini, ada yang menggusurku suatu saat nanti?

  • Aman ga yak kalo gak belajar?

Dan coba munculin banyak lagi tentang alasan kenapa kamu harus belajar. Ini juga aku lakuin kayak belajar dan explore tentang AI gitu. Soalnya, kalo denial tentang kedatangan AI malah aku merasa ketinggalan sangat jauh dengan yang lain.

Oke, lanjutin ke yang lebih praktikal lagi. (Ini hanya berdasarkan pengalamanku aja sih ya. Namanya juga blog pribadi wkwk).

Breakdown Dulu Penyebab Kita Susah Belajar

"Belajar sulit, tapi gak belajar gak berkembang." Ini bukan sekadar kalimat motivasi, ini fakta. Solusinya adalah ya “BELAJAR”, dengan mengelola penyebab yang kita alami.

Pertama, Beban Pikiran yang Menumpuk Kita

Kita ini masuk di dunia yang aku namain “dunia serba sibuk”. Bahkan, sampai gak ada waktunya buat istirahat kadang harus bilang, “aku sibuk tidur”. Wkwk.

Pekerjaan, urusan rumah, tagihan, bahkan FOMO (fear of missing out) dari media sosial bikin kepala kita penuh. Saat mau belajar, otak sudah kehabisan energi. Mau fokus baca tentang suatu materi yang kita rencanakan? Eh, malah kepikiran deadline besok atau chat grup yang belum dibalas.

Kalau kamu nunggu pikiran tenang baru mulai belajar, kapan mulainya? Jangan sampai kesibukan jadi alasan untuk nggak berkembang. Ambil napas, prioritaskan, dan sisihkan waktu 30 menit sehari. Ingat, skill baru nggak akan datang sendiri, kamu yang harus menjemputnya!"

Misalnya nih, aku biasanya suka mengulik tentang masalah SEO dari pendekatan produk. So, yang aku explore lebih jauh itu malah di bagian produk dan marketnya. Mungkin kalo SEO itu aku udah punya bekal, tapi untuk memahami produk dan behaviour market, kayaknya aku harus belajar lebih jauh lagi.

Eng ing eng, masalahnya ya tadi. Sok sibuk banget.

Solusinya: Alokasikan waktu 30 menit sebelum tidur buat baca-baca. Ini works di aku, tapi gak tau kalo di kalian.

Kedua, Ekspektasi Instan (Dikira Bisa Langsung Mahir)

Mau Cepat Bisa, Cepat Jago Kita hidup di dunia serba instan.

  • Mau makan? Pesan online.

  • Mau cari info? Google dalam 3 detik.

Tapi, belajar skill baru seperti SEO, digital marketing, memahami ilmu marketingnya Pak Philip Kotler itu menurutku nggak bisa instan.

Kamu nggak bisa baca satu artikel trus langsung jago bikin strategi konten viral. SEO aja butuh waktu berbulan-bulan buat naik ranking, masa belajar dari 1 artikel udah langsung ahli. Apalagi kalo belajar marketing dari buku, behhh harus baca beneran sih ini.

Nyicil adalah solusi bagiku.

Jadi inget, kalo kita mau jadi ahli dalam semalam, Stop! itu hanya mimpi!

Hasil instan itu mitos. Yang ada, proses belajar itu seperti menanam pohon, butuh waktu, kesabaran, dan konsistensi. Hasil itu bisa kadang buruk dan kadang baik. Minimal dengan tau yang buruk, bisa dicegah di kemudian hari.

Ketiga, Takut Keluar dari Zona Nyaman

Zona nyaman itu enak, ya. Nggak perlu mikir keras, nggak perlu takut gagal. Tapi, kalau kita mau jago dalam menjalani hidup, ya kita harus berani keluar dari zona nyaman.

Misalnya, buat jadi SEO Specialist, gak cukup cuma belajar masalah bikin artikel. Itu mah bisa didelegasikan ke orang lain. Namun, coba belajar lebih luas bahkan dari sisi bisnis. Biar apa? Biar mandiri ketika nanti gak di situ lagi.

Belajar hal baru itu nggak nyaman (itu udah pasti, bahkan akupun juga). Apalagi kalau harus ngulik tools analitik atau ngerti algoritma Google yang ribet. Tapi, mau gimana lagi? Masa gitu-gitu terus? Nanti bisa ditendang sama anak baru.

Kalau kita nggak berani keluar dari zona nyaman, ya selamat tinggal level up! Ingat, semua orang sukses di bidang digital marketing juga pernah merasa nggak nyaman di awal. Mereka berani mencoba, gagal, dan belajar lagi. Kamu juga bisa, asal nggak takut mencoba!

Terakhir, Distraksi Modern: Musuh Utama Belajar

Notifikasi WhatsApp, TikTok, Netflix, atau bahkan chat grup kerja, dan semuanya siap mengalihkan perhatian kamu. Kalo kamu ga punya batas untuk mengelola itu semua, kayaknya gak bakal ada waktu untuk belajar.

Cara mengatasi distraksi versiku.

  • WA bikin 2, satu untuk kantor dan satu untuk pribadi

  • Nonton media sosial batasi sehari berapa jam

  • Perbanyak ibadah bisa mengurangi ketergantungan akan media sosial

  • Wajib belajar 30 menit (entah bentuknya video, teks, atau bahkan mungkin diskusi dg AI kayak deepseek atau chatGPT).

Semoga tulisan ringkas ini bisa jadi catatan untukku di kemudian hari kalo misalkan aku malas belajar lagi.

15 views